Friday, 1 December 2017

PANTUN KEPALA DPM PATRIA DIRESPON NEGATIF RT/RW





Laporan – Karminto Adi, SSos
Wartawan Tabloid RADAR KOTA

LUMAJANG  -  Pantun Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat (DPM) Kabupaten Lumajang Patria Dwi Hastiadi pada acara pembinaan RT/RW di Desa Tegal Randu Kecamatan Klakah beberapa hari yang lalu terus menjadi 'momok' dan pembicaraan publik hingga saat ini, Kamis (23/11).

Pasca viral di media sosial, akun bernama Andy Soeryanto mengomentari sembari dirinya sebagai warga menyangkan akan situasi birokrasi Lumajang yang saat ini dinilainya terlalu vulgar.

"Waduh kok yaa semakin vulgar gini yaa birokrat ? Mbok yaa sing Alus, jabatan itu titipan dan amanah bukan punya Mak  nYik pak brooo," tulisnya.

Disusul oleh pemilik akun yang lain yang sarat dengan keheranan.

"Layo pola trimakno warisan mbah buyute iku," tulis pemilik akun bernama KI Rombeng Pamungkas.
Yang artinya : Mungkin dikira warisan.

Lebih mengerucut, beberapa menit dibawahnya, akun yang sama ini menulis ''ngono iku sing ngrusak negoro'' yang artinya : Begini ini yang merusak negara.

Selain itu, tanggapan juga disampaikan oleh salah seorang tokoh pemuda Lumajang, Agus Amir pada awak media.

Ia mengatakan, pantun yang dilontarkan Patria Dwi Hastiadi AP, sebagai aparatur negara yakni Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat (DPM) Kabupaten Lumajang seraya mendukung Drs. H. As’at, M.Ag sebagai bupati periode 2018-2023, sangat salah dan tidak layak.

“Apa yang disampaikan Pak Patria sangat salah, bahkan tak pantas di ucapkan dalam ruang terbuka. Ingat, dia seorang pejabat negara," ucapnya.

Dia mengaku heran dan mempertanyakan apakah Patria tidak paham dan tidak membaca SE Menpan RB yang isinya melarang Pegawai Negeri Sipil (PNS) terlibat dalam aksi dukung mendukung calon bupati pada pilkada 2018.

“Masak yang besangkutan (Patria, Red) tidak membaca SE itu. Ini gak bisa dibiarkan agar tidak berlanjut pada aparatur yang lain untuk melakukan hal sama," imbuhnya.

Perlu diketahui, saat acara pembinaan RT-RW, di Desa Tegal Randu Klakah Lumajang, Selasa (21/11) Patria melontarkan pantun yang berbunyi, “Branjang kawat kecemplung sumur. Ronggo lawe ilang saktine. Bakalan kualat sak umur-umur, yen RT-RW ndak dukung bupatine”.

Bukan hanya itu, sebagai mana direkam dan dipublikasikan oleh media masa, sambutan Patria dalam acara tersebut bernuansa ajakan untuk mendukung kembali Drs. H. As’at sebagai Bupati Lumajang Periode 2018-2023.

Dia menyampaikan, kalau tunjangan RT/RW dinaikkan sebesar Rp 50 ribu dari 150 ribu menjadi 200 ribu/ bulan dari 8.826 RT/RW se Kabupaten dikalikan 12 bulan mencapai Rp 5,3 miliar.

“Dari Rp 5,3 miliar itu, saya selaku Kepala DPM Lumajang juga pembina RT/RW siap menata anggaran jika diperintahkan oleh bupati dan disetujui oleh Ketua DPRD. Saya coba dulu jangan tepuk tangan. Kalau ndak bengok-bengok I Like Lumajang ndak bisa merobohkan tenda ini, ya jangan dinaikkan pak bupati,” ungkapnya lalu tertawa.

Dikahir sambutan, Patria kembali menghembuskan pantun.

"Tetaplah bersemangat, Yang terakhir. Mangan sate sambele tomat. Neng jero alas golek apukat. Lek Pak RT dan RW wes sepakat, rong ewu wolulas (2018) dukung Pak As'at,"

Namun ketika hendak dikonfirmasi sejumlah wartawan untuk konfirmasi terkait pantunnya yang menimbulkan penafsiran beragam itu, Patria berjanji Jum’at pekan ini.

“Rabu depan atau jum’at besok karena ini masih terima tamu dr jakarta di pemda,” ungkapnya lewat pesan singkat pada wartawan.(Kar)

Ket foto : Ka.DPM Lumajang. Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat. Patria Dwi Hastiadi AP.

No comments:

Post a Comment

KAPOLSEK PRONOJIWO BERSAMA DANRAMIL LAKUKAN SILATURAHMI DAN PEMASANGAN HIMBAUAN KAMTIBMAS TAMU WAJIB LAPOR 1X24 JAM

Laporan – Karminto Adi, SSos Wartawan RADAR KOTA LUMAJANG - Kapolsek Pronojiwo IPTU Kusnan bersama Danramil Pronojiwo Kapten I ...